Hari Anak? Lalu Bagaimana Dengan Anak Para Tersangka ‘Teroris’?


Rasakan dalam jiwa kita yang paling dalam dan bayangkan bila kita adalah anak-anak yang dituduh teroris oleh negara dan masyarakat. Dicibir, dipinggirkan bahkan diintimidasi secara psikologi.

Tak bolehkan mereka sama seperti kita yang hidup tanpa stigma yang melekat dijidat, bercengkrama tanpa ada rasa curiga dan mata yang selalu melihat dengan tatapan menghina. Mungkin itu hanya mimpi saya, karena masyarakat yang tidak pernah tahu duduk permasalahan yang sebenarnya, menerima begitu saja apa yang diberikan oleh penguasa dan media, bahwa teroris harus dibasmi bahkan anak-cucunya pun mendapat perlakuan yang sama.

Inilah wajah bopeng kita yang selalu bermuka dua, bersikap ganda. Kita selalu menyerukan keadilan untuk semua, persamaan hak dan tidak memandang apapun latar belakang manusia, semua harus merasakan damai, lalu pertanyaannya sudahkah kita bersikap adil terhadap orang-orang dan keluarga yang terstigma sebagai teroris ?  Kalau belum inilah wajah kita.

Ayolah, kita semua sudah lelah dengan konsep-konsep dan program-program, kita membutuhkan orang-orang yang melaksanakan kata-kata, singsingkan lengan baju, datangi anak-istri para korban stigma teroris, beri mereka apa yang kita bisa berikan kepada mereka, walaupun itu hanya sekedar senyum didepan pintu rumah mereka, tapi itulah kewajiban kita sebagai manusia yang masih punya rasa ukhuwah, bahwa keluarga yang ditinggalkan para tersangka teroris, baik yang ditembak aparat maupun yang mendekam dipenjara adalah keluarga kita juga.

Tapi entahlah, kita sudah terlalu cinta dengan keadaan kita yang aman, nyaman hingga kita akan berfikiran seribu kali untuk menolong mereka, kita juga menanamkan fikiran, jangan-jangan kalau memberi orang-orang itu akan tersangkut oleh jaringan mereka, sekerdil inikah kita hingga jiwa kita pun ikut menjadi banci. Kita tidak sedang berbicara tentang tindakan mereka, kita sedang berbicara tentang rasa kemanusiaan kita yang digedor-gedor setiap waktu, yang mengorek telinga kita dengan teriakan lapar anak-anak yang ditinggal mati oleh orang tuanya. Kalau belum paham juga berarti kita sudah mati sebelum kematian yang sebenarnya.

Bila hari ini masih banyak yang diam dengan segala kedzaliman setelah keterangan ini, saya hanya bisa berkata “matilah kalian membawa konsep perjuangan”.

Selamatkan Anak-anak tersangka “teroris”

Hari Anak Nasional jatuh hari ini. Berbagai media massa mengangkat issu seputar anak-anak negeri ini. Ada yang kena penyakit aneh, ada yang menjadi pekerja anak, dan ada pula anak-anak yang dilacurkan oleh orang tuanya sendiri. Tapi ada satu yang terlewat, anak-anak korban terorisme. Mereka yang menjadi yatim, karena ayah mereka ditangkap aparat atau meninggal tertembak karena diduga teroris. Tak ada satu pun media yang mengangkatnya.

Sekjen Komnas Perlindungan Anak, Aris Merdeka Sirait mengatakan Anak-anak tersangka “teroris” tidak boleh mendapat label anak teroris dan tidak boleh mendapat perlakuan diskriminasi. Negara harus melindungi masa depan anak-anak tersebut dengan menanggung biaya pendidikan dan memberikan mata pencaharian untuk orang tuanya.

Mereka hanyalah anak anak yang mungkin saja sama sekali tidak tahu dengan apa yang sedang terjadi. Mereka juga harus mendapat perlakukan yang sama dengan anak anak lainnya. Karena hak anak-anak itu sama, termasuk anak-anak tersangka pelaku teror. Anak-anak itu harus mendapatkan perlakuan yang sama dalam segala hal, bahkan selepas mereka dari masa kanak-kanak mereka kelak yaitu saat mencari kerja.

Sementara itu, Ketua Komisi Nasional Perlindungan Anak,  Kak Seto menyatakan bahwa hendaknya pihak sekolah dan lingkungan tetap memberikan perlindungan agar anak tetap mendapatkan hak dalam bidang pendidikan. Dia juga meminta pihak kepolisian agar hak-hak anak tetap terlindungi saat orang tua mereka ditangkap akibat terorisme.

Kepedulian Umat Sangat Dibutuhkan

Upaya menggalang bantuan dan menciptakan suasana pendidikan yang nyaman sangat dibutuhkan bagi anak anak ini. Karena dikhawatirkan stigma masyarakat tidak bisa diubah. Mereka akan mengucilkan dan memberi pelabelan yang salah terhadap mereka. Saatnya mengulurkan tangan dan meringankan beban. Dengan saling membantu semuanya akan menjadi mudah.

Dunia anak anak adalah dunia yang indah. Jangan sampai masalah orang orang dewasa menjadi beban mereka sehari-hari. Biarkanlah mereka tumbuh menjadi anak anak yang ceria dalam hidupnya. Tidak ada beban, tidak ada yang perlu dirisaukan.

“Seorang Muslim adalah saudara bagi Muslim lainnya, tidak menzhalimi atau mencelakakannya. Barangsiapa membantu kebutuhan saudaranya sesama Muslim dengan menghilangkan satu kesusahan darinya, niscaya Allah akan menghilangkan darinya satu kesusahan di antara kesusahan-kesusahan di hari kiamat. Dan barangsiapa menutupi aib seorang Muslim, niscaya Allah akan menutup aibnya pada hari kiamat.” (HR Bukhari dari Abdullah bin Umar ra)

Janji Allah dalam hadist itu sangatlah jelas dan mudah dipahami. Allah pun tidak pernah menyelisihi janjinya. Sebagai seorang mukmin yang beriman kepada Allah, kita akan meyakini kebenaran hadist itu. Dan bersiap membantu dan meringankan kesusahan saudara kita, termasuk juga anak-anak tersebut. Wallahua’lam. [muslimdaily.net]

This entry was posted in berita lokal, Renungan. Bookmark the permalink.

One Response to Hari Anak? Lalu Bagaimana Dengan Anak Para Tersangka ‘Teroris’?

  1. saling ngelink akh biar rame…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s