Manhaj Ustadz Abu Bakar Ba’asyir


Bismillaahirrohmaanirrohiim

Sebuhungan dengan munculnya berbagai tuduhan miring yang dilontarkan oleh sebagian da’i dan Ustadz, kepada Ustadz Abu Bakar Ba’asyir yang merebak seiring dengan gencarnya isue terorisme yang dilancarkan oleh Amerika Serikat dan sekutu-sekutunya pada akhir-akhir ini, saya, Luthfi Haidaroh melakukan tabayyun langsung kepada Ustadz Abu Bakar Ba’asyir mengenai hal ini.

Saya: As Salaamu’alaikum Warohmatullohi Wabarokaatuh.

Ustadz ABB: Wa ‘Alaikumus Salaam Warohmatullohi Wabarokaatuh.

Saya: Sebelumnya bisakah Ustadz memnceritakan sekilas tentang biografi Ustadz?

Ustadz ABB: Saya dilahirkan di desa Pekunden, kecamatan Mojo Agung kabupaten Jombang, pada tanggal 12 Dzul Hijjah 1389 H. Hal ini saya ketahui berdasarkan catatan yang ditulis oleh ayah saya yang kira-kira bertepatan dengan tahun 1938 M. Ayah saya adalah seorang Yaman dari wilayah Hadlramaut yang bernama ‘Abuud bin Ahmad dan marganya Ba’muallim Ba’asyir. Sedang ibu saya namanya Haliimah lahir di Indonesia tetapi ayahnya adalah juga orang Yaman yang marganya Bazargan. Sedang ibunya (nenek saya perempuan dari fihak ibu) adalah orang jawa asli.

Saya ditinggal wafat oleh ayah saya ketika saya masih berumur tujuh tahun. Jadi ketika itu saya sebagai anak yatim di bawah asuhan ibu. Ibu saya seorang buta huruf, tidak bisa baca tulis, tetapi pandai membaca Al Qur’an dan taat beragama. Saya bersaudara ada 7 orang, 4 orang wanita dan 3 orang laki-laki. Semua saudara saya sudah wafat.

Adapun pendidikan yang saya tempuh adalah pertama saya masuk sekolah Islam ibtida’iyyah tetapi saya tidak melanjutkan karena situasi revolusi melawan Belanda pada waktu itu. Setelah kemerdekaan dan situasi aman saya dimasukkan sekolah dasar negeri yang waktu itu bernama SR (Sekolah Rakyat). Dan kalau malam saya belajar mengaji dan agama di surau-surau di desa saya, di samping dididik oleh ibu saya. Setelah tamat dari sekolah dasar saya melanjutkan ke SMP negeri di kota Jombang yang jaraknya 13 KM dari rumah saya dan saya tempuh dengan mengendarai sepeda ontel.

Setelah saya tamat dari SMP saya melanjutkan sekolah dan di terima di SMA negeri di Surabaya. Tetapi belum sampai satu tahun terpaksa saya tidak dapat melanjutkan sekolah karena tidak ada biaya. Lalu ketika itu saya ikut membantu kerja kakak saya di perusahaannya sarung tenun. Pada tahun 1959 M saya dimasukkan oleh kakak saya, yakni Salim Ba’asyir dan Ahmad Ba’asyir ke pondok pesantren Daarus Salaam Gontor dan dibiayai oleh kedua kakak saya itu. Pada tahun 1963 saya berhasil menamatkan di pondok jurusan Mu’allimiin, lalu saya melanjutkan sekolah ke Universitas Al Irsyad di Solo, jurusan Dakwah Wal Irsyad selama tiga tahun. Pada waktu itu saya berusaha untuk melanjutkan sekolah ke Sudan tetapi tidak berhasil. Sampai di sinilah riwayat pendidikan saya.

Adapun gerakan yang saya pernah aktif di dalamnya adalah Pandu Islam Indonesia, Gerakan Pemuda Islam Indonesia ranting, Pelajar Islam Indonesia dan Gerakan Pramuka ketika di Pondok. Selama saya di Universitas Al Irsyad saya aktif dalam gerakan Pemuda Al Irsyad Solo dan HMI Solo. Pada waktu itu saya sebagai ketua LDMI (Lembaga Dakwah Mahasiswa Islam) cabang Solo.

Adapun gerakan dakwah yang saya terjuni ialah saya berdakwah untuk mengamalkan ilmu saya bersama beberapa da’i yang terkenal di Solo pada waktu itu, yaitu Al Marhum Ustadz Abdulloh Sungkar, Al Marhum Abdulloh Thufail dan Al Marhum Ustadz Hasan Basri. Dalam rangka meningkatkan usaha dakwah, kami mendirikan radio dakwah ABC di gedung Al Irsyad Solo yang sampai hari ini masih ada. Karena perselisihan faham akhirnya saya keluar meninggalkan radio ABC. Lalu bersama-sama Ustadz Abdulloh Sungkar, Ustadz Hasan Basri dan para pendukung lainnya kami mendirikan Radio Dakwah Islamiyyah Surakarta (RADIS). Al Hamdulillah radio ini sangat digemari dan disambut oleh umat Islam karena siarannya penuh dengan dakwah yang tegas dan menghindari lagu-lagu maksiat. Karena siarannya yang tegas menerangkan Islam akhirnya radio ini ditutup oleh thoghut orde baru. Setelah itu kami mulai memusatkan pendidikan disamping melanjutkan dakwah.

Yakni pertama kali kami mendirikan Madrasah Diniyyah di komplek masjid Al Mukmin Gading Kidul. Madrasah ini masuk sore dan kurikulumnya hanya terbatas mengajarkan bahasa Arab dan syariat Islam. Setelah lima tahun madrasah ini kami tingkatkan menjadi pondok pesantren yang didirikan oleh terutama enam muballigh dan ustadz yakni Al Marhum Ustadz Abdulloh Sungkar, saya sendiri, Al Marhum Ustadz Hasan Basri, Al Marhum bapak Abdulloh Baraja’ (kakak ipar saya), Al Marhum Ustadz Yoyok Rasywadi dan Ustadz Abdul Qohhar Haji Daeng Matase. Pondok yang kami dirikan ini didukung oleh anggota-anggota pengajian yang kami asuh, terutama pengajian kuliah dhuhur di masjid Agung Surakarta. Di antara pendukung yang menonjol adalah Al Marhum bapak Abdul Lathif yang tempat tinggalnya berdampingan dengan Masjid Al Mukmin.

Di samping kami aktif mengurus pendidikan kami juga tetap istiqomah melanjutkan dakwah dengan tujuan meluruskan Indonesia ini agar benar-benar menjadi negara yang berdasarkan Islam dan diatur seratus persen oleh hukum Alloh Ta’ala sehingga diharapkan menjadi baldatun thoyyibatun warobbun ghofuur. Di samping itu dakwah kami, kami tujukan untuk memberantas kemungkaran terutama kemungkaran yang sampai kepada nilai kemusyrikan yaitu asas tunggal pancasila yang diciptakan oleh thoghut orde baru. Karena tujuan dakwah ini akhirnya kami yakni Ustadz Al Marhum Abdulloh Sungkar, saya sendiri dan Ustadz Al Marhum Hasan Basri ditangkap dan dipenjarakan oleh thoghut orde baru dan setelah empat tahun baru diajukan ke sidang pengadilan thoghut. Akhirnya Al Marhum Ustadz Abdulloh Sungkar dan saya divonis hukuman sembilan tahun penjara. Setelah kami naik banding, oleh pengadilan tinggi thoghut semarang diturunkan hukumannya menjadi empat tahun sesuai dengan masa tahanan yang telah kami jalani.

Tetapi jaksa kasasi ke mahkamah agung akhirnya mahkamah agung membebaskan kami sambil menunggu keputusan kasasi jaksa. Setelah kami dengan ijin Alloh dibebaskan kami tetap melanjutkan pendidikan dan dakwah dan tidak bergeser dari tujuan semula. Akhirnya thoghut menekan mahkamah agung agar hukuman yang dikenakan kepada kami dinaikkan lagi menjadi sembilan tahun. Ketika kami mendapat panggilan dari pengadilan negeri Sukoharjo untuk mendengarkan keputusan mahkamah agung, kami mendapat fatwa dari ulama’ yang menganjar di lembaga bahasa Arab di Jakarta agar tidak mendatangi panggilan tersebut karena hukumnya dosa. Kami diberi pilihan berhijroh atau tetap di rumah sampai ditangkap oleh polisi.

Akhirnya kami memilih hijroh. Dan Al Hamdulillah berkat pertolongan Alloh Ta’alakami berhasil berhijroh ke negara jiran Malaysia. Setelah dua tahun kami di Malaysia, Alloh berkenan mendatangkan keluarga, yakni istri dan anak. Dan kami tinggal di Malaysia selama 15 tahun dan selama di Malaysia kegiatan kami adalah mencari rizki dan tetap berdakwah untuk melanjutkan menuju cita-cita yang telah digariskan. Pada tahun 1999 setelah thoghut orde baru dihinakan dan diruntuhkan oleh Alloh Ta’ala saya kembali ke Indonesia. Sedang Ustadz Abdulloh Sungkar wafat di Indonesia pada tahun kurang lebih 2000. Setelah saya kembali ke Indonesia, saya kembali ke pondok untuk melanjutkan mengurus pendidikan di samping itu saya terus terjun melanjutkan dakwah menuju cita-cita yang telah digariskan. Dalam rangka meningkatkan dakwah saya mengikuti kongres mujahidin yang menelorkan Majlis Mujahidin Indonesia (MMI) dan saya dipilih mejadi amir MMI.

Lagi-lagi karena tujuan dakwah inilah pada tahun 2003, saya ditangkap dan difitnah oleh thoghut pemerintahan Megawati dan dijebloskan ke dalam penjara lagi. Satu setengah tahun saya menjalani hukuman, tetapi setelah bebas ketika saya keluar dari pintu penjara langsung disambut lagi oleh polisi pemerintahan thoghut Megawati dan dijebloskan lagi ke dalam penjara karena tekanan dan perintah aparat Dajjal Amerika. Sampai hari ini saya masih menjalani hukuman yang dipaksakan oleh pemerintah thoghut Susilo Bambang Yudoyono selama 30 bulan karena semata-mata untuk memenuhi kemauan aparat dajjal Amerika, dan insya Alloh dengan ijin Alloh Ta’ala pada bulan juni 2006 saya bebas.

Adapun keluarga saya adalah istri bernama ‘Aisyah binti Abdur Rohman Baraja’. Dia adalah adik Al Marhum bapak Abdulloh Baraja’, salah satu pendiri pondok Al Mukmin. Istri saya sangat setia kepada saya dan sabar menanggung berbagai musibah yang menimpa kami dalam perjuangan. Saya dikarunia oleh Alloh tiga orang anak. Yang paling besar kami beri nama Zulfah. Dan Al Hamdulillah sekarang sudah berumah tangga dan dikaruniai 8 orang anak. Yang nomer dua adalah Abdur Rosyid, yang pernah juga belajar di pondok Gontor tetapi hanya sampai kelas lima lalu saya pindahkan ke Ma’had Salmaan Al Faarisiy di Komplek Muhajirin Afghanistan di Pakistan selama dua tahun. Lalu saya kirim ke Saudi Arabia dan masuk Ma’had Daarul Hadiits. Al Hamdulillah dapat menamatkan selama 10 tahun. Dan sekarang dia sudah berkeluarga mempunyai anak tiga.

Dan kegiatannya mengajar di pondok Al Mukmin dan berdakwah di masyarakat. Adapun anak saya yang ketiga adalah laki-laki yang bernama Abdur Rohim. Setelah dia memasuki pendidikan setingkat tsanawiyyah di Malaysia, dia saya kirim masuk Ma’had Salmaan Al Faarisiy bersama kakak dia Abdur Rosyid. Lalu dia melanjutkan lagi di perguruan Sunnah di dekat Islamabad jurusan Mustholahul Hadits. Tetapi karena situasi keamanan sehingga tidak dapat menyempurnakan pendidikannya. Akhirnya saya kirin ke Shan’a Yaman, untuk melanjutkan pendidikan di Jami’ah Al Iman di Shan’a. hanya dua tahun, dia kurang sesuai lalu dia kembali ke Indonesia dan sekarang mengajar di pondok Al Mukmin, dan mengajar di masyarakat.

Inilah sekilas tentang riwayat hidup saya.

Saya: Akhir-akhir ini banyak tersebar tuduhan terhadap Ustadz, bahwasanya Ustadz adalah Khowaarij, Takfiiriy, Teroris dan lain-lain. Sebenarnya apa inti dari ajaran Ustadz sehingga Ustadz sering mendapatkan tudingan seperti itu?

Ustadz ABB: Di sini saya perlu luruskan bahwasanya yang saya imani dan saya amalkan selama ini bukanlah, ajaran saya pribadi, akan tetapi apa yang saya imani dan saya amalkan serta yang saya dakwahkan adalah ajaran seluruh Nabi dan Rosul, yakni Al Qur’an dan Sunnah.

Saya: Bisakah secara ringkas Ustadz memberikan gambaran global dari ajaran para Nabi dan Rosul yang Ustadz dakwahkan?

Ustadz ABB: Baiklah, secara ringkas ajaran yang saya amalkan dan yang saya dakwahkan adalah tauhid yang dirumuskan dalam dua kalimat syahadat dan diwujudkan dalam amalan ibadah hanya kepada Alloh dan menjauhi thoghut seperti yang diperintahkan oleh Alloh Ta’aladi dalam surat An Nahl ayat 36 yang berbunyi:

أَنِ اعْبُدُوا اللهَ وَاجْتَنِبُوا الطَّاغُوتَ

“Beribadahlah kalian kepada Alloh dan jauhilah thoghut.”

Dan ini merupakan arti yang terkandung di dalam kalimat tauhid laa ilaaha illallooh (tidak ada ilaah kecuali Alloh). Oleh karena itu di dalam surat Al Ambiyaa’ ayat 25 Alloh Ta’ala berfirman:

وَمَآأَرْسَلْنَا مِن قَبْلِكَ مِن رَّسُولٍ إِلاَّنُوحِي إِلَيْهِ أَنَّهُ لآ إِلَهَ إِلآ أَنَا فَاعْبُدُونِ

“Dan tidaklah Kami utus seorang Rosulpun sebelum kamu kecuali Kami wahyukan kepadanya bahwasanya tidak ada ilaah kecuali Aku maka beribadahlah kepadaKu.”

Dan kalimat tauhid yang membuahkan amalan ibadah hanya kepada Alloh dan menjauhi thoghut inilah yang membuahkan al ‘urwatul wutsqo yang Alloh sebutkan di dalam surat Al Baqoroh ayat 256:

فَمَن يَكْفُرْ بِالطَّاغُوتِ وَيُؤْمِن بِاللهِ فَقَدِ اسْتَمْسَكَ بِالْعُرْوَةِ الْوُثْقَى لاَ انْفِصَامَ لَهَا

“..maka barang siapa yang kufur terhadap thoghut dan beriman kepada Alloh, ia telah berpegang tegung dengan tali yang kuat yang tidak akan terputus ..”

Kalimat tauhid laa ilaaha illallooh itu mempunyai dua rukun penting yang harus difahami, yakni:

Pertama: An nafyu yang terkandung dalam kalimat laa ilaaha, dan ini sesuai dengan apa yang diterangkan di dalam surat An Nahl yang berbunyi:

وَاجْتَنِبُوا الطَّاغُوتَ

“Dan jauhilah thoghut.”

Dan di dalam surat Al Baqoroh yang berbunyi:

فَمَن يَكْفُرْ بِالطَّاغُوتِ

“… maka barang siapa yang kufur terhadap thoghut.”

Hal ini dikarenakan banyaknya manusia sesat sehingga thoghut dijadikan ilaah yang diibadahi maka hal ini harus dinafikan dalam bentuk menjauhi dan menkafirinya.

Yang kedua: Al Itsbaat yang terkandung di dalam kalimat yang berbunyi: illallooh, seperti yang diterangkan di dalam surat An Nahl yang berbunyi:

أَنِ اعْبُدُوا اللهَ

“.. beribadahlah kalian kepada Alloh ..”

Dan di dalam surat Al Baqoroh yang berbunyi:

وَيُؤْمِن بِاللهِ

“.. dan beriman kepada Alloh ..”

Jadi yang benar adalah menetapkan bahwa ilaah yang wajib diibadahi secara benar itu hanya Alloh Ta’ala saja bukan yang lainnya. Keyakinan ini harus diwujudkan dalam amalan beribadah dan beriman kepada Alloh saja sesuai dengan keterangan ayat-ayat tersebut di atas.

Saya: Apa yang Ustadz maksud dengan thoghut?

Ustadz ABB: yang dimaksud dengan thoghut adalah segala sesutu yang diibadahi, yakni ditaati secara mutlak selain Alloh dan dia rela untuk diibadahi, sebagai mana yang disebutkan di dalam firman Alloh di dalam surat Az Zumar ayat 17 yang berbunyi:

وَالَّذِينَ اجْتَنَبُوا الطَّاغُوتَ أَنْ يَعْبُدُوهَا

“Dan orang-orang yang menjauhi thaghut dengan tidak beribadah kepadanya…”

Selain itu thoghut juga mencakup semua orang yang memutuskan perkara dengan hukum yang bertentangan dengan hukum Alloh, sebagaimana yang disebutkan oleh Alloh di dalam surat An Nisaa’ ayat 60 yang berbunyi:

يُرِيدُونَ أَنْ يَتَحَاكَمُوا إِلَى الطَّاغُوتِ

“…mereka hendak memutuskan perkara kepada thaghut…”

Dalam ayat ini diterangkan bahwa ada orang yang berhukum kepada thoghut, maka ini berarti ada thoghut yang memutuskan perkara.

Saya: Contohnya pada zaman sekarang apa Ustadz?

Ustadz ABB: Pada hari ini thoghut itu banyak sekali bentuknya, bisa berupa benda mati, seperti barang-barang yang dikeramatkan seperti kuburan wali-wali yang dikeramatkan, batu bertuah, pohon yang dianggap angker, patung yang disembah, kitab atau buku selain Al Qur’an dan Sunnah yang dijadikan pegangan hidup dan sebagai sumber hukum, dan lain-lain.

Selain itu ada juga thoghut yang berupa makhluq hidup seperti orang-orang yang membuat hukum yang bertentangan dengan hukum Alloh karena rujukannya hawa nafsu atau kemauan mayoritas rakyat bukan Al Qur’an dan Sunnah, seperti anggota parlemen menurut konsep demokrasi, dan orang-orang yang memutuskan perkara dengan berdasarkan hukum buatan tersebut, yaitu para penguasa pemerintah dan hakim negara demokrasi / sekuler yang menjalankan kekuasaan dan hukum berdasarkan hukum yang dibuat oleh parlemen tersebut. Dan thohut yang berupa makhluq hidup ini adalah lebih berbahaya dari pada thoghut yang berupa benda mati, meskipun semua bentuk thoghut itu berbahaya.

Saya: Kenapa orang-orang yang duduk di parlemen, pemerintah dan hakim itu disebut sebagai thoghut?

Ustadz ABB: Adapun orang-orang yang duduk diparlemen, mereka disebut thoghut karena mereka adalah orang-orang yang diibadahi selain Alloh dan mereka rela. Adapun bentuk ibadah kepada mereka adalah berupa ketaatan terhadap hukum-hukum yang mereka buat yang jelas bertentangan dengan hukum Alloh. Maka pengamalan ibadah itu tidak terbatas hanya berupa sujud, ruku’ dan ibadah-ibadah ritual yang lainnya. Akan tetapi ketaatan terhadap ketetapan hukum yang mereka buat yang jelas-jelas bertentangan dengan hukum Alloh juga merupakan amalan ibadah. Masalah ini nampak jelas dalam firman Alloh Ta’ala yang menyatakan bahwa orang nasrani menjadikan pendeta mereka sebagai tuhan seperti yang tersebut di dalam ayat berikut:

اِتَّخَذُوْا أَحْبَارَهُمْ وَرُهْبَانَهُمْ أَرْبَابًا مِنْ دُوْنِ اللهِ

“Mereka menjadikan pendeta-pendeta dan rahib-rahib mereka sebagai robb-robb (tuhan-tuhan) selain Alloh.” (At Taubah: 31)

Alloh menyatakan bahwasanya orang-orang Nasrani telah menjadikan pendeta-pendeta mereka sebagai robb (tuhan), padahal mereka tidak sujud atau ruku’ kepada pendeta-pendeta mereka, akan tetapi orang-orang nasrani itu mentaati pendeta-pendeta mereka dalam menghalalkan sesuatu yang haram dan dalam mengharamkan sesuatu yang halal, dan mereka semua sepakat bersama pendeta-pendeta tersebut dalam hal itu, maka dengan perbuatan mereka ini Alloh tetapkan bahwa mereka telah menjadikan pendeta-pendeta tersebut sebagai robb-robb, karena sesungguhnya taat terhadap ketetapan hukum itu adalah salah satu bentuk ibadah yang tidak boleh dilakukan kepada selain Alloh.

Itulah sebabnya pemerintah atau hakim yang menjalankan hukum yang ditetapkan oleh parlemen yang jelas-jelas menyalahi hukum Alloh mereka adalah termasuk thoghut sebagaimana yang Alloh terangkan di dalam firmanNya di dalam surat An Nisaa’ ayat 60 yang berbunyi:

يُرِيدُونَ أَنْ يَتَحَاكَمُوا إِلَى الطَّاغُوتِ

“…Mereka hendak memutuskan perkara kepada thaghut…”

Saya: Lalu praktek dari menjauhi atau mengkufuri thoghut itu bagaimana Ustadz?

Ustadz ABB: Menjauhi atau mengkufuri thoghut itu ada tingkatan-tingkatannya, masing-masing beramal sesuai dengan kemampuannya. Adapun tingkatan yang paling tinggi adalah dengan melaksnakan dzirwatu sanaamil Islaam yaitu jihad melawan para thoghut, melawan pendukung-pendukungnya dan melawan pengikut-pengikutnya yang di laksanakan sesuai aturan syar’i, untuk menghancurkannya sehingga dapat membebaskan manusia dari beribadah kepadanya lalu diluruskan agar beribadah hanya kepada Alloh ta’aalaa semata. Alloh Ta’ala berfirman:

وَقَاتِلُوهُمْ حَتَّى لاَتَكُونَ فِتْنَةٌ وَيَكُونَ الدِّينُ كُلُّهُ للهِ

“Dan perangilah mereka sampai tidak ada fitnah dan sampai seluruh diin itu hanya milik Alloh…”

Yang dimaksud fitnah dalam ayat ini adalah kekafiran dan kesyirikan, yang bentuknya antara lain praktek beribadah kepada thoghut.

Disamping itu harus pro aktif mengamalkan millah Ibrohim, yakni berlepas diri dari thoghut secara terang-terangan. Sebagaimana yang diamalkan oleh Nabi Ibrohim dan umat beliau dan diikuti oleh para Nabi dan Rosul, termasuk Nabi kita Muhammad Shalallah ‘alahi wa sallam sebagaimana yang diterangkan oleh Alloh Ta’ala  dalam firmannya:

قَدْ كَانَتْ لَكُمْ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ فِي إِبْرَاهِيمَ وَالَّذِينَ مَعَهُ إِذْ قَالُوا لِقَوْمِهِمْ إِنَّا بُرَءَآؤُا مِنكُمْ وَمِمَّا تَعْبُدُونَ مِن دُونِ اللهِ كَفَرْنَا بِكُمْ وَبَدَا بَيْنَنَا وَبَيْنَكُمُ الْعَدَاوَةُ وَالْبَغْضَآءُ أَبَدًا حَتَّى تُؤْمِنُوا بِاللهِ وَحْدَهُ

“Sungguh telah ada suri tauladan yang baik bagi kalian pada Ibrohim dan orang-orang yang bersamanya ketika mereka mengatakan kepada kaum mereka: Sesungguhnya kami baroo’ (berlepas diri dan memusuhi) kepada kalian dan kepada apa yang kalian ibadahi selain Alloh. Kami kufur terhadap kalian dan telah nyata permusuhan dan kebencian antara kami dan kalian selama-lamanya sampai kalian beriman hanya kepada Alloh semata.” (Al Mumtahanah: 4)

Ayat ini menegaskan bahwa Nabi Ibrohim dan umatnya berlepas diri, memusuhi dan membenci thoghut dan sikap Nabi Ibrohim dan umatnya ini dinyatakan oleh Alloh sebagai uswatun hasanah bagi kita umat Islam.

FirmanNya yang berbunyi ( بدا ) artinya adalah ( ظهر ) “nampak” dan ( بان ) “jelas”. Di dalam ayat ini lebih didahulukan permusuhan sebelum kebencian, karena hal ini menunjukkan bahwa permusuhan itu lebih penting dari pada kebencian, sebab terkadang manusia itu membenci pengikut-pengikut thoghut namun ia tidak memusuhi mereka sehingga ia tidak dikatakan telah melaksanakan millah Ibrohim sampai ia melaksanakan permusuhan dan kebencian.

Namun jika jihad melawan thoghut belum mampu, maka yang wajib dilakukan adalah i’daadul quwwah baik secara maaddiy, yakni i’daad untuk menyusun kekuatan fisik dan senjata maupun secara ma’nawiy, yakni i’daad untuk membentuk kekuatan aqidah, kekuatan iman, kesempurnaan ukhuwwah dan menumbuhkan semangat jihad serta cinta mati syahid sampai kewajiban jihad dapat dilaksanakan. I’daad seperti yang diterangkan di atas hukumnya wajib karena diperintahkan oleh Alloh Ta’ala dalam surat Al Anfal yang berbunyi:

وَأَعِدُّوا لَهُم مَّااسْتَطَعْتُم مِّن قُوَّةٍ

“Dan persiapkanlah segala kekuatan yang kalian sanggupi untuk menghadapi mereka …”

Dan firman Alloh Ta’ala di dalam surat At Taubah yang berbunyi:

وَلَوْ أَرَادُوا الْخُرُوجَ لأَعَدُّوا لَهُ عُدَّةً

“Dan seandainya mereka memang ingin keluar untuk berjihad tentu mereka melakukan persiapan…”

Dan jika i’daad juga belum mampu maka ia harus berusaha hijroh ke negara yang bisa diamalkan jihad atau i’daad. Hijroh ini hukumnya wajib bila ada kemampuan. Apabila sampai tidak diamalkan maka ada ancaman Alloh Ta’ala seperti yang disebutkan di dalam firmanNya yang berbunyi:

إِنَّ الَّذِينَ تَوَفَّاهُمُ الْمَلاَئِكَةُ ظَالِمِي أَنفُسِهِمْ قَالُوا فِيمَ كُنتُمْ قَالُوا كُنَّا مُسْتَضْعَفِينَ فِي اْلأَرْضِ قَالُوا أَلَمْ تَكُنْ أَرْضُ اللهِ وَاسِعَةً فَتُهَاجِرُوا فِيهَا فَأُوْلاَئِكَ مَأْوَاهُمْ جَهَنَّمُ وَسَآءَتْ مَصِيرًا

“Sesungguhnya orang-orang yang diwafatkan malaikat dalam keadaan menganiaya diri mereka sendiri, kepada mereka malaikat bertanya: “Dalam keadaan bagaimana kamu ini”. Mereka menjawab: “Kami adalah orang-orang yang tertindas di negeri kami”. Para malaikat berkata: “Bukankah bumi Allah itu luas, sehingga kamu dapat berhijrah dibumi itu”. Orang-orang itu tempatnya neraka Jahannam, dan Jahannam itu seburuk-buruknya tempat kembali.”

Dan jika hijroh pun dia juga tidak mampu, lantaran tidak bisa meloloskan diri dari kekuasaan orang-orang kafir atau lantaran tidak tahu jalan hijroh, maka hendaknya dia ‘uzlah, yakni menghindar diri dari masyarakat pendukung thoghut. Sebagaimana yang difirmankan oleh Alloh Ta’ala di dalam surat ayat-ayat berikut:

وأعتزلكم وما تدعون من دون الله

“Dan aku tinggalkan kalian dan apa-apa yang kalian ibadahi selain Alloh…” (Maryam: 48)

Dan di dalam surat Al Kahfi yang berbunyi:

وَإِذِ اعْتَزَلْتُمُوهُمْ وَمَا يَعْبُدُونَ إِلَّا اللَّهَ

“Dan ingatlah ketika kalian meninggalkan mereka dan apa yang mereka ibadahi selain Alloh.”

Dan demikian pula firman Alloh ta’aalaa dalam surat Maryam yang berbunyi:

فَلَمَّا اعْتَزَلَهُمْ وَمَا يَعْبُدُونَ مِنْ دُونِ اللَّهِ

“Maka ketika ia meninggalkan mereka dan apa yang mereka ibadahi selain Alloh… “

Dan ditempat ‘uzlah hendaklah ia banyak membaca doa orang-orang mustadl’afiin seperti yang Alloh sebutkan di dalam surat An Nisaa’ yang berbunyi:

رَبَّنَآأَخْرِجْنَا مِنْ هَذِهِ الْقَرْيَةِ الظَّالِمِ أَهْلُهَا وَاجْعَل لَّنَا مِن لَّدُنكَ وَلِيًّا وَاجْعَل لَّنَا مِن لَّدُنكَ نَصِيًرا

Wahai robb kami, keluarkanlah kami dari negeri kami yang penduduknya dholim, dan berikanlah pelindung kepada kami dari sisi Mu, dan berikanlah kepada kami penolong dari sisiMu.

Meskipun dalam keadaan lemah dan uzlah ia tetap tidak boleh menunjukkan sikap ridlo atau setuju terhadap para thoghut. Alloh berfirman:

وَلَقَدْ بَعَثْنَا فِي كُلِّ أَمَّةٍ رَّسُولاً أَنِ اعْبُدُوا اللهَ وَاجْتَنِبُوا الطَّاغُوتَ

“Dan telah Aku utus pada setiap umat seorang Rosul (yang berseru): Beribadahlah kalian kepada Alloh dan jauhilah thoghut.”

Dan Alloh ta’aalaa berfirman:

فَاجْتَنِبُوا الرِّجْسَ مِنَ اْلأَوْثَانِ

“Dan jauhilah kotoran yang berupa berhala-berhala.”

Berhala seperti yang tersebut di dalam ayat di atas adalah merupakan salah satu bentuk thoghut.

Dan Alloh berfirman tentang doa yang diucapkan oleh Ibrohim:

وَاجْنُبْنِي وَبَنِيَّ أَن نَّعْبُدَ اْلأَصْنَامَ

“Dan jauhkanlah aku dan anak keturunanku dari beribadah kepada patung-patung. “

Apabila sikap berlepas diri, memusuhi dan membenci thoghut menurut kemampuan tidak diamalkan, maka dia di akherat akan termasuk orang-orang yang rugi, dan sama sekali tidak akan berguna dan bermanfaat seberapapun waktu yang ia habiskan dalam mengamalkan ajaran Islam.

Kecuali jika dia mukroh, yakni karena dipaksa dan tidak mampu melawan, ketika itu boleh pura-pura melunak sedang hatinya harus tetap membenci thoghut dan tenang dengan iman, sebagaina yang diterangkan di dalam firman Alloh Ta’ala di dalam surat An Nahl:

مَن كَفَرَ بِاللهِ مِن بَعْدِ إِيمَانِهِ إِلاَّ مَنْ أُكْرِهَ وَقَلْبُهُ مُطْمَئِنٌّ بِاْلإِيمَانِ وَلَكِن مَّن شَرَحَ بِالْكُفْرِ صَدْرًا فَعَلَيْهِمْ غَضَبٌ مِّنَ اللهِ وَلَهُمْ عَذَابٌ عَظِيمُُ

“Barang siapa kafir kepada Alloh setelah ia beriman kecuali orang yang mukroh (dipaksa) sedangkan hatinya tetap beriman, akan tetapi orang yang dadanya lapang terhadap kekafiran tersebut, maka baginya adalah murka dari Alloh dan siksa yang besar.” (QS. An Nahl: 106)

Sedangkan ikrooh ada dua macam:

Pertama : Ikrooh Mulji’ (paksaan yang sempurna): yaitu dengan cara mengancam untuk membunuh atau memotong atau memukul yang dikhawatirkan akan menghilangkan nyawa atau anggota tubuh.

Kedua: Ikrooh ghoiru mulji’ (paksaan yang kurang): Yaitu selain kurungan dan ikatan dan pukulan yang tidak dikhawatirkan akan membikin cacat.

Menurut pendapat jumhuur ulama bahwa yang diberi rukhshoh (keringanan) untuk melakukan kekafiran itu hanya ketika terjadi Ikrooh mulji’. Namun para ulama’ sepakat bahwa orang yang dipaksa itu jika dia memilih dibunuh dari pada melakukan perbuatan kafir itu lebih baik dari pada orang yang memilih rukhshoh.

Saya: Mengenai tuduhan terhadap Ustadz yang banyak muncul pada akhir-akhir ini, bagaimana tanggapan Ustadz?

Ustadz ABB: Tuduhan apa itu?

Saya: Tuduhan bahwa Ustadz adalah takfiiriy, khowaarij, teroris dan lain-lain, yang berasal dari beberapa aktifis dakwah terutama dari kalangan orang-orang yang menyebut diri mereka sebagai Salafiyyuun?

Ustadz ABB: Tuduhan tersebut sama sekali tidak beralasan dan saya kira hanya berdasarkan hawa nafsu dan menyenangkan thoghut saja atau karena gangguan syubhat dalam pemahaman aqidah. Karena saya tidak pernah mudah-mudah mengkafirkan orang seperti kaum Khowaarij, kecuali orang-orang yang dikafirkan oleh Alloh dan Rosulnya atau oleh ijma’ sahabat maka wajib saya kafirkan. Sedangkan orang-orang Khowaarij adalah orang-orang yang mengkafirkan para pelaku dosa besar. Saya tidak mengkafirkan kecuali orang-orang yang dikafirkan oleh Alloh dan Rosulnya atau oleh ijma’ sahabat berdasarkan nash yang shoriih dan sesuai dengan pemahaman para ulama’ salaf. Sebagaimana para sahabat, yang ketika itu dipimpin oleh Abu Bakar Ash Shiddiiq juga mengkafirkan orang-orang Islam yang mengaku sebagai Nabi beserta para pemngikutnya, dan juga mengkafirkan orang-orang yang menolak membayar zakat, meskipun mereka masih syahadat, sholat dan melakukan amalan-amalan Islam yang lain

Di dalam Majmu’ Fatawa juz 28 hal. 519 Ibnu Taimiyah berkata:

وَقَد اتَّفَقَ الصَّحَابَةُ وَاْلأَئِمَّةُ بَعْدَهُمْ عَلَى قِتَالِ مَانِعِي الزَّكَاةِ وَإِنْ كَاُنُوْا يُصَلُّوْنَ الْخَمْسَ وَيَصُوْمُوْنَ شَهْرَ رَمَضَانَ، وَهَؤُلاَءِ لَمْ يَكُنْ لَهُمْ شُبْهَةٌ سَائِغِةٌ فَلِهَذَا كَانُوْا مُرْتَدِّيْنَ، وَهُمْ يُقَاتَلُوْنَ عَلَى مَنْعِهَا وَإِنْ أَقَرُّوْا بِالْوُجُوْبِ

“Para shahabat dan para ulama sesudah mereka telah bersepakat untuk memerangi orang-orang yang menolak membayar zakat, sekalipun mereka mengerjakan sholat dan shoum Ramadlon. Mereka tidak mempunyai syubhat yang dapat diterima, oleh karena itu mereka telah murtad. Mereka diperangi lantaran mereka menolak untuk membayar zakat meskipun mereka masih mengakui wajibnya membayar zakat.”

Saya: Secara lebih rincinya bagaimana Ustadz?

Ustadz ABB: Yang saya kafirkan adalah orang-orang yang dikafirkan oleh Alloh dan Rosulnya atau oleh ijma’ sahabat. Seperti orang-orang yang beribadah kepada selain Alloh atau melakukan perbuatan yang menjadi pembatal Iman. Di antara bentuk ibadah batil yang saya perangi sejak dahulu sampai hari ini antara lain adalah ibadah yang berupa amalan berhukum kepada selain hukum Alloh dan membuat hukum untuk mengganti hukum Alloh. Karena menetapkan hukum untuk mengatur kehidupan manusia adalah hak mutlak Alloh Ta’ala sebagaimana diterangkan oleh Alloh di dalam surat Yusuf ayat 40:

إِنِ الْحُكْمُ إِلاَّ للهِ أَمَرَ أَلاَّتَعْبُدُوا إِلآًّإِيَّاهُ ذَلِكَ الدِّينُ الْقَيِّمُ وَلَكِنَّ أَكْثَرَ النَّاسِ لاَيَعْلَمُونَ

“Sesungguhnya hukum itu hanyalah hak Alloh, IA memerintahkan agar kalian tidah beribadah kecuali kepadaN ya. Itulah diin yang lurus akan tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui.”

Dan di dalam menetapkan hukum, Alloh Ta’ala tidak mau disekutui. Dia tetapkan hukum menurut kehendakNya yang Maha Bijaksana, makhluqNya tidak boleh turut campur. Hal ini ditegaskan di dalam firmanNya di dalam Surat Al Kahfi ayat 26:

وَلَا يُشْرِكُ فِي حُكْمِهِ أَحَدًا

“…dan Dia tidak mengambil seorangpun menjadi sekutu-Nya dalam menetapkan keputusan.”

Atas dasar ini maka semua pemerintahan yang menjalankan hukum selain hukum Alloh adalah kafir, kufur akbar yakni berarti telah keluar dari Islam, karena amalan ini berarti menyekutui Alloh dalam menetapkan hukum.

Begitu pula hakim yang memutuskan perkara dengan hukum yang bertentangan dengan hukum Alloh juga kafir kufur akbar, maka haram hukumnya bekerja menjadi hakim seperti ini. Dan dalil atas kafirnya para penguasa dan hakim yang menjalankan hukum selain hukum Alloh tersebut adalah firman Alloh Ta’aalaa:

ومن لم يحكم بما أنزل الله فأولئك هم الكافرون

“Dan barang siapa tidak memutuskan perkara dengan hukum yang diturunkan Alloh, maka mereka adalah orang-orang kafir. “

Oleh karena itu tidak boleh berhukum atau menyelesaikan perkara kepada pengadilan-pengadilan seperti ini dan tidak boleh juga melaksanakan keputusan-keputusannya, dan barang siapa yang berhukum kepada undang-undang mereka dengan sukarela maka dia juga kafir, karena ini berarti berhukum kepada thoghut.

Oleh karena itu amalan semacam ini disalahkan oleh Alloh Ta’ala dan pengakuan imannya dinafikan seperti disebut dalam surat An Nisaa’ yang berbunyi:

أَلَمْ تَرَإلِىَ الَّذِينَ يَزْعُمُونَ أَنَّهُمْ ءَامَنُوا بِمَآأُنزِلَ إِلَيْكَ وَمَآأُنزِلَ مِن قَبْلِكَ يُرِيدُونَ أَن يَتَحاَكَمُوا إِلَى الطَّاغُوتِ وَقَدْ أُمِرُوا أَن يَكْفُرُوا بِهِ وَيُرِيدُ الشَّيْطَانُ أَن يُضِلَّهُمْ ضَلاَلاً بَعِيدًا

“Apakah kamu tidak memperhatikan orang-orang yang mengaku dirinya telah beriman kepada apa yang diturunkan kepadamu dan kepada apa yang diturunkan sebelum kamu Mereka hendak berhakim kepada thaghut, padahal mereka telah diperintahkan untuk mengingkari thaghut itu. Dan syaitan bermaksud menyesatkan mereka (dengan) penyesatan yang sejauh-jauhnya.”

Sedang orang beriman hanya berhukum kepada hukum Alloh saja, kalau tidak bersedia berarti dia tidak beriman sebagaimana dijelaskan dalam firman Alloh yang berbunyi:

فَلاَ وَرَبِّكَ لاَيُؤْمِنُونَ حَتَّى يُحَكِّمُوكَ فِيمَا شَجَرَ بَيْنَهُمْ ثُمَّ لاَ يَجِدُواْ فِي أَنفُسِهِمْ حَرَجًا مِّمَّا قَضَيْتَ وَيُسَلِّمُوا تَسْلِيمًا

“Maka demi Robbmu, mereka pada hakekatnya tidaklah beriman sampai mereka menjadikan kamu hakim dalam perkara yang mereka perselisihkan, kemudian mereka tidak merasa keberatan dalam hati mereka terhadap putusan yang kamu berikan, dan mereka menerima dengan sepenuhnya.”

Maka berdasarkan ayat-ayat itu sesungguhnya para anggota parlemen di negara-negara demokrasi / sekuler adalah juga kafir kufur akbar. Karena merekalah yang membuat dan mengesahkan berlakunya undang-undang yang jelas-jelas bertentangan dengan hukum Alloh. Ini berarti mereka menyekutui Alloh di dalam membuat hukum. Hal ini jika tidak terdapat mawani’ pada diri mereka.

Dan lebih jelas lagi ditegaskan dalam surat Asy Syuro yang berbunyi:

أم لهم شركاء شرعوا لهم من الدين مالم يأذن به الله

Apakah mereka memiliki sekutu-sekutu yang membuat syariat diin yang tidak diijinkan oleh Alloh.

Demikian pula orang-orang yang memilih mereka sebagai wakil mereka di parlemen tersebut juga kafir kufur akbar. Karena dengan memilih mereka sebagai wakil mereka di parlemen tersebut berarti mereka telah menjadikan para anggota parlemen yang mereka pilih sebagai Robb-Robb / tuhan-tuhan yang membuat undang-undang selain hukum Alloh. Dan semua orang yang mengajak atau menganjurkan orang lain untuk mengikuti pemilihan itu juga kafir.

Dalilnya adalah firman Alloh Ta’aalaa di dalam surat At Taubah yang berbunyi:

اتخذوا أحبارهم ورهبانهم أربابا من دون الله

“Mereka menjadikan pendeta-pendeta dan rahib-rahib mereka sebagai robb-robb (tuhan-tuhan) selain Alloh.”

Dan para tentara / polisi yang menjadi pembela negara kafir tersebut adalah juga kafir kufur akbar, karena mereka itu berperang di jalan thoghut. Alloh Ta’aalaa berfirman:

والذين كفروا يقاتلون في سبيل الطاغوت

“Dan orang-orang kafir berperang di jalan thoghut.” (QS. An Nisaa’: 76).

Dan thoghut yang dia berperang dijalannya di sini adalah thoghut dalam bidang hukum, yaitu yang berupa undang-undang dan hukum buatan manusia, dan berupa pemerintah yang menjalankan undang-undang tersebut. Karena mereka yang menjalankan hukum dengan selain hukum Allohitu adalah thoghut sebagaimana firman Alloh Ta’aalaa yang berbunyi:

يريدون أن يتحاكموا إلى الطاغوت

“Mereka hendak berhukum kepada thoghut.”

Dengan demikan maka kaum muslimin tidak mempunyai kewajiban untuk taat kepada para penguasa thoghut. Dan juga tidak mempunyai kewajiban untuk mematuhi undang-undang negara tersebut. Akan tetapi ia bebas untuk melanggarnya asal memenuhi 2 syarat: pertama, tidak melakukan perbuatan yang dilarang secara syar’iy, dan yang kedua tidak mengganggu atau mendholimi orang Islam.

Dan sesungguhnya negara yang menggunakan undang-undang kafir adalah Daarul Kufri (negara kafir), dan jika sebelumnya negara tersebut Daarul Islam, artinya sebelumnya negara tersebut diatur berdasarkan syariat Islam lalu diganti dengan undang-undang kafir, sedangkan penduduknya masih Islam, maka negara tersebut adalah Daaru Kufrin Thoori’ yaitu negara kafir yang tidak asli, dan ada juga yang menyebut sebagai Daarul Mustabdil karena ia mengganti hukum Islam dengan hukum jahiliyyah / kafir.

Namun perlu diingat bahwasanya menghukumi kafir yang saya sebut kan di sini adalah hukum yang dikenal di kalangan para ulama’ dengan Takfiirul Mutlaq. Adapun untuk Takfiirul Mu’ayyan, yaitu mengkafirkan orang-orang tertentu yang telah melakukan perbuatan-perbuatan yang saya sebutkan tadi, maka harus melalui kaidah-kaidah yang telah disebutkan oleh para ulama’ yaitu dengan mengecek syarat-syarat dan penghalang-penghalang vonis kafir pada diri orang yang mau dikafirkan tersebut. Ini semua dijelaskan oleh para ulama’ di dalam kitab-kitab fikih dalam pembahasan ar riddah atau kemurtadan, al qodloo’ atau pengadilan, ad da’awaat atau tuduhan dan al bayyinaat atau pembuktian. Silahkan kaji di sana.

Adapun status umat Islam yang tinggal di negara yang menjalankan hukum kafir tersebut adalah harus melawan menurut kemampuan sebagaimana yang disabdakan oleh Rosululloh Shalallah ‘alahi wa sallam dalam hadits yang diriwayatkan oleh Muslim:

فمن جاهدهم بيده فهو مؤمن ومن جاهدهم بلسانه فهو مؤمن ومن جاهدهم بقلبه فهو مؤمن وليس وراء ذلك من الإيمان حبة خرذل

“Barang siapa berjihad melawan mereka dengan tangannya maka dia beriman dan barang siapa berjihad melawan mereka dengan lisannya maka dia beriman dan barang siapa berjihad melawan mereka dengan hatinya maka dia beriman, dan setelah itu tidak ada iman lagi walaupun sebesar biji sawi.”

Jadi mereka yang memerangi thoghut dengan senjata maka mereka adalah orang beriman, dan mereka yang memerangi thoghut dengan lisannya maka mereka adalah orang yang beriman, dan yang memerangi dengan hati juga orang beriman.

Karena hanya Alloh yang tahu isi hati seseorang maka orang yang bersikap diam, tidak memerangi thoghut baik dengan senjata maupun dengan lisan hukumnya adalah dianggap sebagai orang Islam jika secara dhohir dia mengamalkan Islam, seperti mengucapkan syahadat, sholat dan amalan-amalan lain yang menjadi ciri khas Islam. Karena ada kemungkinan dia masuk dalam katagori orang yang memerangi thoghut tersebut dengan hatinya lantaran dia tidak mampu memerangi dengan tangan dan lidahnya. Penilaian ini juga didasarkan atas sabda Nabi Shalallah ‘alahi wa sallam:

من صلى صلاتنا و استقبل قبلتنا وأكل ذبيحتنا فذلك المسلم

Barangsiapa yang sholat sebagaimana kami sholat, menghadap ke kiblat kami dan memakan sembelihan kami maka ia muslim.“ (Hadits ini diriwayatkan oleh Al Bukhooriy no. 391).

Sedangkan orang-orang Khowaarij dalam menyikapi golongan ini berselisih pendapat. Sebagian berpendapat mereka juga kafir karena diam itu menunjukan ia ridlo. Adapun sebagian yang lain menyikapinya dengan tawaqquf, tidak menghukumi mereka sebagai orang Islam dan juga tidak menghukumi mereka sebagai orang kafir.

Sedangkan Ahlus Sunnah Wal Jama’ah menganggap mereka sebagai orang Islam sebagaimana saya katakan tadi.

Adapun penduduk negara tersebut yang jelas-jelas melakukan kekafiran seperti orang yang berwala’ kepada thoghut, atau melakukan kekafiran lainnya seperti meninggalkan sholat, menghina Islam dan amalan-amalan yang membatalkan Islam lainnya, maka dia dihukumi sebagai orang kafir. Sebagaimana firman Alloh:

وَمَن يَتَوَلَّهُم مِّنكُمْ فَإِنَّهُ مِنْهُمْ

“Dan barangsiapa berwala’ kepada mereka maka dia termasuk golongan mereka.”

Dan sebagaimana sabda Nabi:

بين الرجل وبين الكفر ترك الصلاة

“(Batas) antara seseorang dan antara kekafiran adalah meninggalkan sholat. “

Hadits ini diriwayatkan oleh Muslim.

Adapun penduduk negara tersebut yang tidak menunjukkan tanda-tanda apapun baik sebagai orang Islam maupun orang kafir, maka kita tawaqquf dalam menyikapinya. Tidak kita anggap sebagai orang Islam dan tidak kita anggap sebagai orang kafir, kecuali dalam-keadaan-keadaan tertentu yang menuntut kita untuk menentukan statusnya maka kita lakukan tabayyun.

Saya: Tadi Ustadz terangkan bahwsanya kita tidak boleh memutuskan perkara kepada pengadilan thoghut dan tidak boleh juga melaksanakan keputusan-keputusannya, dan barang siapa yang berhukum kepada undang-undang mereka dengan sukarela maka dia juga kafir. Lalu bagaimana dengan proses pengadilan yang selama ini Ustadz jalani di dalam pengadilan taghut Ustadz?

Ustadz ABB: Pertama perlu diingat bahwasanya saya diseret ke sidang pengadilan thoghut bukan atas kemauan saya, akan tetapi saya ditahan setelah melalui perlawanan yang dilakukan oleh umat Islam. Pada penahan pertama saya diciduk ketika saya di rumah sakit PKU dan ketika itu sempat terjadi bentrok fisik antara umat Islam dengan aparat thoghut, sedangkan pada penahanan yang kedua saya diciduk ketika saya baru keluar dari pintu penjara salemba dan ketika itu juga sempat terjadi perlawanan yang dilakukan oleh umat Islam.

Kedua: karena saya ditangkap oleh pemerintah thoghut secara tidak syah maka, dan hal itu juga sempat terjadi perlawanan yang dilakukan umat Islam, maka sebenarnya status saya selama penangkapan sampai menjalani hukuman yang mereka putuskan itu tidaklah sebabagaimana yang mereka katakan, yaitu sebagai tersangkan kemudian sebagai terpidana. Akan tetapi di dalam syariat Islam saya ini statusnya adalah tawanan.

Atas dasar itu maka yang saya jalani selama ini bukanlah memutuskan perkara kepada pengadilan toghut atau menjalankan putusan thoghut. Akan tetapi saya adalah tawanan yang dipaksakan untuk menjalani proses persidangan rekayasa yang mereka buat.

Oleh karena itu saya di dalam sidang saya senantiasa ingin membuktikan kepada umat bahwa ini adalah persidangan rekayasa yang mana jika ditimbang sesuai dengan undang-undang thoghut merekpun sebenarnya saya tidak dapat dijerat oleh hukum. Hal ini saya lakukan dalam berbagai kesempatan yang mereka atur di dalam undang-undang mereka, yaitu eksepsi, pledoi, banding, kasasi sampai peninjauan kembali. Itu semua saya lakukan bukan karena tunduk kepada undang-undang mereka, akan tetapi saya ingin jelaskan kepada umat bahwasanya ini adalah pengadilan rekayasa yang bertujuan untuk menyenangkan aparat Dajjal Amerika. Karena jelas menurut fakta dipersidangan thoghutpun sebenarnya perkara yang mereka tuduhkan kepada saya itu sangat lemah dan tidak dapat dijadikan landasan hukum.

Saya: Mereka yang menuduh Ustadz sebagai orang yang berfaham Khowaarij atau Takfiiriy mengatakan bahwa dalil yang Ustaz sebutkan dalam surat Al Maa-idah ayat 44 tadi adalah sama dengan dalil yang sering didengung-dengungkan oleh orang-orang Khowaarij jaman dahulu. Dari sini bisakah Ustatz menjelaskan perbedaan antara paham yang Ustadz terangkan tadi ini dengan pemikiran orang-orang Khowaarij jaman dahulu?

Ustadz ABB: Dalam tafsirnya, Al Fakhrur Rooziy menerangkan tentang pendapat orang-orang Khowaarij dalam memahami ayat ini: Ayat ini merupakan nash yang menunjukkan bahwa setiap orang yang memutuskan perkara dengan selain hukum yang diturunkan Alloh dia kafir, dan setiap orang yang melakukan dosa apa saja berarti dia telah memutuskan perkara dengan selain hukum yang diturunkan Alloh, maka dia pasti menjadi kafir. Begitulah penafsiran kaum Khowaarij tentang ayat ini.

Penafsiran semacam ini jelas batal dan menyeleweng. Sebab meskipun nash ini bersifat umum, namun ia khusus untuk masalah memutuskan perkara dan persengketaan di antara manusia, dan tidak mencakup seluruh perbuatan pribadi manusia sebagaimana yang difahami oleh Khowaarij.

Karena nash ini meskipun menggunakan shighoh yang bersifat umum, namun ayat ini khusus mengenai para hakim yang memutuskan perkara di antara manusia dan menyelesaikan persengketaan dan perselisihan. Maka ayat ini bersifat umum dalam permasalahannya atau ia bersifat umum dalam permasalahan tertentu, yaitu masalah memutuskan perkara dan persengketaan. Dan sesungguhnya apabila terdapat kata-kata al hukmu di dalam Al Qur’an dan Sunnah maka yang dimaksud tidak lain adalah memutuskan persengketaan dan bukan mencakup semua perbuatan manusia. Karena sesungguhnya Alloh Ta’aalaa berfirman:

وَمَن لَّمْ يَحْكُم بِمَآأَنزَلَ اللهُ

“Dan barangsiapa tidak memutuskan perkara dengan apa yang diturunkan Alloh….”

Dan tidak berfirman :

وَمَن لَّمْ يعمل بِمَآأَنزَلَ اللهُ

“Dan barangsiapa tidak beramal dengan apa yang diturunkan Alloh….”

Maka menggunakan kata (الحكم) secara umum mencakup seluruh perbuatan manusia sehingga setiap orang yang berbuat dosa berarti dia berhukum dengan selain apa yang diturunkan Alloh, merupakan penyelewengan kata-kata dari makna yang sebenarnya. Dan ini merupakan ciri-ciri Khowaarij sebagaimana, sabda Rosululloh Shalallah ‘alahi wa sallam : dalam hadits-hadits yang mutawatir bahwasanya beliau mengatakan bahwa mereka itu:

يقرؤون القرآن لا يجاوز حناجرهم

“Mereka membaca Al Qur’an tapi bacaan mereka tidak melebihi kerongkongan mereka”

Artinya mereka mengulang-ulang bacaan Al Qur’an dengan kerongkongan mereka tapi tidak melebihinya sampai hati yang mana hati itu merupakan tempat pemahaman. Maksudnya mereka tidak memahami maksud dari Al Qur’an yang mereka baca.

Di antaranya yang memperkuat apa yang saya katakan tersebut adalah firman Alloh Ta’aalaa :

وَمَن لَّمْ يَحْكُم بِمَآأَنزَلَ اللهُ فَأُوْلَئِكَ هُمُ الْكَافِرُونَ

“Dan barangsiapa tidak memutuskan perkara dengan apa yang diturunkan Alloh maka mereka adalah orang-orang kafir”

Ayat ini turun berkenaan dengan memutuskan perkara manusia dan hal itu diperkuat dengan firman Alloh Ta’aalaa sebelumnya :

وإن حكمت فاحكم بينهم بالقسط

“Dan jika engkua putuskan perkara mereka maka putuskan lah dengan adil”

Dan yat tersebut turun berkenaan dengan Rosul yang memutuskan perkara 2 orang yahudi yang berzina.

Dan firman Alloh Ta’aalaa :

خَصْمَانِ بَغَى بَعْضُنَا عَلَى بَعْضٍ فَاحْكُم بَيْنَنَا بِالْحَقِّ — إلى قوله — يَادَاودُ إِنَّا جَعَلْنَاكَ خَلِيفَةً فِي اْلأَرْضِ فَاحْكُم بَيْنَ النَّاسِ بِالْحَقِّ

“Kami adalah dua oran yang bersengketa yang salah seorang di antara kami berklaku aniaya terhadap yang lain maka putuskanlah perkara kami dengan benar —- sampai firman Nya — Wahai Daud sesungguhnyan Kami menjadikanmu sebagai kholifah di muka bumi maka putuskanlah perkara di antara manusia dengan benar.” QS. Shood : 22-26)

Ini merupakan nash yang nyata yang menunjukkan bahwa (الحكم) itu maksudnya adalah memutuskan perkata antara dua orang yang bersengketa. Dan bahwa para penguasa, dan juga para hakim adalah orang-orang yang masuk dalam katagori ini, karena Daud as yang dikisahkan dalam surat Shood 22-26 tersebut hakekatnya adalah seorang raja, sebagaimana diterangkan dalam firman Alloh Ta’aalaa :

وَقَتَلَ دَاوُدُ جَالُوتَ وَءَاتَاهُ اللهُ الْمُلْكَ وَالْحِكْمَةَ

“Dan Daud membunuh Jalut dan Alloh memberikan kepadanya kerajaan dan hikmah (pemahaman).” (QS. Al Baqarah : 251)

Dan disini saya sebutkan lagi arti-arti dari kata (الحكم) yang terdapat dalam Al Qur’an dan Sunnah, seperti firman Alloh Ta’aalaa :

وَإِذَا حَكَمْتُمْ بَيْنَ النَّاسِ أَنْ تَحْكُمُوا بِالْعَدْلِ

“Dan apabila kalian memutuskan perkara di antara manusia maka hendaklah kalian memutuskan nya dengan adil.” (QS. An-Nisa’ : 58)

Dan Alloh berfirman :

فَاحْكُم بَيْنَهُمْ بِمَآأَنزَلَ اللهُ

“Maka putuskanlah perkara mereka dengan apa yang diturunkan Alloh.” (QS. Al Maa-idah : 48)

Dan Alloh Ta’aalaa berfirman :

لِتَحْكُمَ بَيْنَ النَّاسِ بِمَآأَرَاكَ اللهُ

“Supaya kamu memutuskan perkara di antara manusia dengan apa yang Alloh tunjukkan kepadamu.” (QS. An Nisa’ : 105)

Dan Alloh Ta’aalaa berfirman :

حَتَّى يُحَكِّمُوكَ فِيمَا شَجَرَ بَيْنَهُمْ

“Sehingga mereka menjadikanmu sebagai pemutus perkara terhadap apa yang mereka perselisihkan.” (QS. An Nisa’ : 65)

Ini semua menunjukkan bahwa yang dimaksud dengan al hukmu di sini adalah memutuskan perkara orang yang saling bersengketa atau berselisih, bukan mencakup semua amal perbuatan manusia, seperti yang dikatakan kaum Khowaarij. Maka faham saya tentang ayat ini adalah seperti faham Ahlus Sunnah dan bertentangan dengan faham kaum Khowaarij.

Selain itu, khowarij adalah orang-orang yang memberotak terhadap penguasa yang syah secara syar’i sedang kalau yang memberontak pemerintah yang tidak syar’i maka tidak bisa di kategorikan sebagai khowarij.

Saya: Tadi Ustadz juga menerangkan bahwa pemerintah yang menjalankan hukum buatan manusia itu adalah termasuk thoghut yang harus diperangi dan diingkari. Dan pemahaman seperti ini sering dijadikan alasan untuk menuduh Ustadz sebagai orang yang berpaham Khowaarij. Bagaimana tanggapan Ustadz?

Ustadz ABB: Dalam hal ini harus dibedakan antara orang-orang yang memberontak kepada penguasa, baik dengan alasan duniawi maupun dengan alasan diin, dengan orang-orang yang berpaham Khowaarij yang aqidah mereka dinyatakan sesat oleh para ulama’. Karena orang-orang Khowaarij itu bukan hanya memerangi penguasa thoghut saja akan tetapi mereka itu memerangi orang-orang Islam yang telah mereka kafirkan secara umum dengan tidak membedakan antara orang yang baik dengan orang yang jahat dan antara anak-anak, perempuan dan orang tua.

Sedangkan orang-orang yang memerangi penguasa itu ada dua macam:

Pertama: orang-orang yang memerangi penguasa lantaran penguasa tersebut adalah thoghut atau lantaran marah terhadap penyelewengan para penguasa dari ajaran Islam. Mereka ini adalah Ahlul Haqq, dan dalam golongan ini para ulama’ memasukkan nama-nama di antaranya adalah Al Husain Bin ‘Aliy ra, penduduk Madinah pada peristiwa Al Hurroh, para Qurroo’ yang memerangi Al Hajjaaj bersama ‘Abdur Rohman bin Al Asy’ats dan lain-lain.

Sedangkan yang kedua adalah orang-orang yang memerangi penguasa untuk mencari kekuasaan, baik berdasarkan syubhat maupun tidak, dan mereka itu disebut sebagai Bughoot.

Atas dasar ini maka saya menyatakan bahwa orang-orang yang memerangi penguasa thoghut dan penguasa dholim dengan tujuan untuk menentang kekafiran dan kemungkaran mereka, sama sekali tidak disamakan atau dikatakan oleh para ulama’ sebagai orang-orang Khowaarij, meskipun mayoritas Ahlus Sunnah berpendapat untuk bersabar menghadapi penguasa yang berbuat lalim, selama mereka tidak berbuat kekafiran. Maka jelas tidak sama antara orang-orang yang memerangi penguasa yang jelas-jelas melakukan kekafiran yang nyata, dengan orang-orang Khowaarij yang memerangi semua penguasa di luar golongannya.

Lalu bagaimana dengan orang-orang yang justru membantu para penguasa yang jelas-jelas melakukan kekafiran tersebut dalam memerangi para mujahidin yang berjuang untuk menegakkan tauhid?

Namun perlu diketahui bahwa perang bersama orang-orang Khowaarij untuk melawan thoghut dapat dibenarkan sebagai mana para ulama’ memerangi Bani ‘Ubaid Al Qodaah, di bawah pimpinan Abu Yaziid yang berpaham Khowaarij, dan ketika ada orang yang mencela mereka, mereka menjawab: “Kami berperang bersama orang-orang yang bermaksiat kepada Alloh untuk melawan orang-orang yang kafir kepada Alloh.”

Saya: Sebelum kita akhiri mungkin ada pesan Ustadz yang ingin disampaikan?

Ustadz ABB: Al Hamdulillaah dengan ijin Alloh Ta’ala saya nasehatkan kepada seluruh umat Islam untuk terus bersungguh dalam berjihad menghadapi para thoghut, baik dengan tangan, dengan lisan maupun dengan hati. Sebagai mana sabda Rosululloh Shalallah ‘alahi wa sallam yang berbunyi:

جاهدوا المشركين بأموالكم وأنفسكم وألسنتكم

“Berjihadlah melawan orang-orang musyrik dengan harta kalian, dengan, jiwa kalian dan dengan lidah kalian.”

Dan juga dalam sabda beliau Shalallah ‘alahi wa sallam:

فمن جاهدهم بيده فهو مؤمن ومن جاهدهم بلسانه فهو مؤمن ومن جاهدهم بقلبه فهو مؤمن وليس وراء ذلك من الإيمان حبة خرذل

“Barang siapa berjihad melawan mereka dengan tangannya maka dia beriman dan barang siapa berjihad melawan mereka dengan lisannya maka dia beriman dan barang siapa berjihad melawan mereka dengan hatinya maka dia beriman, dan setelah itu tidak ada iman lagi walaupun sebesar biji sawi.”

Maka bagi para mujahidin yang mempunyai kemampuan hendaklah berjihad memerangi thoghut dengan tangan dan jiwanya.

Bagi para ulama’ dan da’i yang tidak mampu memerangi thoghut dengan tangan dan jiwanya hendaklah melawan thoghut dengan lisannya.

Dan bagi para hartawan hendaklah secara minimal berjihad dengan hartanya.

Saya juga ingin ingatkan di sini bahwasanya ketika Ibnu Taimiyyah menghadapi kondisi sebagai mana yang kita hadapi sekarang ini, yaitu tatkala menghadapi Tartar, beliau mengatakan bahwa kondisi yang semacam ini membagi manusia menjadi tiga golongan:

Pertama adalah golongan Ath Thoo-ifah Al Manshuuroh, yaitu mereka-mereka yang berjihad melawan orang-orang kafir.

Kedua adalah Ath Thoo-ifah Al Mukhoolifah, yaitu orang-orang Islam yang bergabung dan bekerja sama dengan orang-orang kafir tersebut.

Dan yang ketiga adalah Ath Thoo-ifah Al Mukhoodzilah, yaitu orang-orang yang enggan untuk berjihad meskipun mereka adalah orang-orang yang menganut ajaran Islam dengan benar.

Dan beliau juga mengatakan bahwasanya seandainya salaf, dari kalangan Muhaajiriin dan Anshoor, seperti Abu Bakar, ‘Umar, ‘Utsman, ‘Aliy dan lainnya hidup pada jaman ini, tentu amalan mereka yang paling utama adalah berjihad melawan orang-orang kafir tersebut.

Berdasarkan penjelasan Ibnu Taimiyyah ini maka saya nasehatkan kepada umat Islam agar berusaha untuk menjadi golongan pertama, yaitu Ath Thoo-ifah Al Manshuuroh yang senantiasa berjihad. Jangan sampai kita menjadi golongan Ath Thoo-ifah Al Mukhoodzilah yang enggan untuk berjihad meskipun pada hakekatnya mampu dengan lisan. Apalagi menjadi golongan Ath Thoo-ifah Al Mukhoolifah dengan cara bekerjasama dengan thoghut dalam memerangi mujahidin. Golongan ini adalah golongan yang rugi dunia akherat. Na’uudzubillaahi min dzaalik.

Saya: Jazaakumulloh Khoiron Ustadz atas kesediaan Ustadz untuk memberikan klarifikasi mengenai berbagai tuduhan yang selama ini dilontarkan kepada Ustadz, semoga Ustadz selalu mendapatkan bimbingan dan perlindungan dari Alloh Ta’ala. As Salaamu ‘Alaikum Warohmatullohi Wabarokaatuh.

Ustadz Abu Bakar Ba’asyir: Amiin. Wa ‘Alaikumus Salaam Warohmatullohi Wabarokaatuh.

Source: http://www.ashhabulkahfi.com/

This entry was posted in tokoh. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s